Motivasi untuk Coding – Bagian 1
Motivasi_untuk_Coding

Motivasi untuk Coding – Bagian 1

Sebelum memulai artikel “Motivasi untuk Coding – Bagian 1” ini, sbelumnya apakah kalian pernah mendengar cerita seperti ini?

Trisna memutuskan untuk belajar pemrograman! Dengan penuh semangat yang membara untuk menemukan passion dan karir baru, ia mendaftar ke dalam kursus daring gratis (seperti Dicoding, Udemy, Coursera atau freeCodeCamp).

Dengan perasaan optimis dan penuh kesiapan, Trisna duduk dan mulai mempelajari materi-materi yang ada malam hari itu juga, seusai menyelesaikan kesibukannya di kegiatan mahasiswa.

Dalam beberapa minggu, Trisna memulai sebuah pola pembelajaran pemrograman hingga larut malam, kemudian bangun di awal hari untuk berkegiatan lain, termasuk kuliah. Dalam waktu seminggu itu juga, ia merasakan beberapa kali kesulitan dan kebingungan dalam mendalami beberapa konsep, dan tidak ada siapapun yang bisa ia tanyai untuk meminta bantuan penjelasan.

Trisna mengorbankan waktu senggangnya, bahkan berhenti mengunjungi kafe tempat ia bersantai dan mengobrol bersama kawan kawannya. Kehidupan sosialnya juga mulai berubah, ia sering tidak hadir dalam kegiatan kampus yang lain.

Setelah beberapa bulan, kebiasaan kurang tidur dan rumitnya logika kode memaksa Trisna untuk menyadari, kalau ia tidak menemukan kemajuan yang berarti setelah 6 bulan ia memulai belajar pemrograman. Pikiran tersebut betul betul mengganggunya.

Pada akhirnya, Trisna memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia mengalami burnout (lesu karena merasa gagal) dan kelelahan. Istirahat yang diniatkan hanya sejenak bertambah menjadi beberapa hari, dan dari beberapa hari, menjadi beberapa minggu, dari minggu ke bulan, dan seterusnya.

Beberapa saat kemudian, Trisna menyadari kalau ia belum sempat membuka kembali tutorial/materi-materi dalam waktu yang sudah sangat lama.  Sambil menarik napas dalam, Trisna membuang pemikiran kalau ia akan, pada suatu saat, memiliki pekerjaan yang betul betul ia cintai.

Mungkin tahun depan ia akan memulai lagi?

Tetap bersemangat dan termotivasi saat belajar Pemrograman

Apakah cerita diatas mirip dengan kejadian-kejadian dalam hidup anda? Apalagi jika anda adalah seorang yang tengah berjihad dalam mengajari diri sendiri pemrograman, mungkin cerita diatas sudah tidak asing lagi.

Belajar pemrograman (selanjutnya disebut coding) atau skill lain secara otodidak adalah suatu hal yang jelas jauh berbeda dari belajar didalam kelas bersama seorang guru seperti yang ada di program studi Teknik Informatika contohnya. Kita tidak memiliki kelas kelas yang wajib dihadiri, tes tes atau nilai yang harus dikejar, serta tidak ada rasa takut ketika kita kehilangan motivasi, karena dalam pembelajaran seperti itu, kita dipaksa hadir, baik termotivasi atau tidak.

Ketika kita belajar coding secara otodidak, ada baiknya kita membentuk motivasi kita sendiri.

Jadi bagaimana kita dapat mencapainya? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa diri kita akan tetap terus belajar dan tidak menyerah?

Ini sulit, namun bukan tidak mungkin. Tulisan ini, yang diintisarikan dari sebuah artikel di freeCodeCamp akan berbagi beberapa tips dan strategi yang dapat kita manfaatkan untuk tetap merasa termotivasi dalam belajar coding.

Tulisan ini akan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian agar kita dapat membacanya dengan lebih santai dan mudah. Dibawah ini adalah garis besar apa yang akan dibahas:

  1. Miliki tujuan akhir dalam pikiran.
  2. Realistis dalam tujuan akhir.
  3. Utamakan konsistensi/istiqamah ketimbang kecepatan.
  4. Bangunlah semangat dan tekad.
  5. Hindari burnout dan tetap mengutamakan istirahat.
  6. Jangan biarkan impostor syndrome menyebabkan kita mundur.
  7. Temukan komunitas dan perkawanan dalam bidang coding.
  8. Ikuti pertemuan-pertemuan, seminar-seminar yang dapat kita temui di sekililing kita yang bertemakan pemrograman.
  9. Jangan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.
  10. Asah rasa keingintahuan dan tetap mencari cara asyik dalam belajar.

Semoga bermanfaat!

Untuk_Coding

#1 Miliki tujuan akhir dalam pikiran

Saat memulai, tujuan akhir yang kita miliki harusnya terbangun dengan konkrit dan jelas. Luangkanlah waktu beberapa menit untuk memikirkan dalam dalam tujuan akhir kita nomor 1. Apakah bagian terpenting dari tujuan yang kita punyai?

Sangat mungkin salah satu tujuan yang ada adalah untuk memiliki pekerjaan fulltime sebagai seorang pengembang web untuk bisa menyokong kebutuhan finansial keluarga. Atau untuk bekerja mandiri, tanpa dibawah seorang boss.

Pada intinya, ketahuilah benar-benar apa jawaban “mengapa” kita. Apa tujuan akhir yang dapat menggerakkan kita dipagi hari, dan membuat kita terus melakukannya.

Saat kita sudah menemukannya, tuliskan dan tempelkan dimana kita dapat melihatnya setiap hari.

Mungkin saran ini terdengar sangat receh. Namun saran ini dapat membantu kita untuk mereview kembali tujuan akhir kita yang membuat kita mengorbankan banyak aspek kehidupan kita. Tulisan tujuan itu sendiri tidak mesti bagus bagus amat, bahkan dapat ditulis di kertas sticky notes atau kertas, apapun yang dapat dengan mudah kita lihat.

Apa tujuan akhirmu dalam mempelajari coding?

Untuk_Coding

#2 Realistis dalam menentukan tujuan akhir

Berada dalam keadaan tetap termotivasi pada dasarnya adalah tidak berkecil hati dan akhirnya menyerah.

Salah satu jebakan besar dalam usaha kita untuk mampu melakukan banyak hal adalah memiliki tujuan akhir yang tidak realistis. Mengapa?

Perasaan kecil hati/putus asa biasanya disebabkan karena ekspektasi kita tidak sama dengan realitas/keadaan.

Jika kita berkecimpung kedalam pembelajaran coding, dan berfikir kalau kita akan belajar dari pemula dasar yang tidak tahu apa apa menuju ke pengembang web professional dalam jangka waktu hanya 6 sampai 12 minggu, maka kita sudah merencanakan kesalahan fatal.

Bukannya hal itu mustahil, hal itu sangat mungkin, namun sangat, sangat, sangat sulit. Belajar pemrograman dalam waktu pendek lalu diterima di sebuah perusahaan besar adalah kasus kasus yang amat sangat langka.

Pada umumnya, programmer professional membutuhkan 1 sampai 2 tahun untuk masuk dalam kategori cukup dan mampu untuk melamar dan mendaftarkan pekerjaan. Tentu saja, rentang waktu tersebut tergantung dari kondisi diri kita. Apabila kita sudah memiliki pekerjaan, atau anak-anak yang diasuh, waktu yang kita miliki akan sangat kurang dibanding dengan mereka yang sedang menempuh pendidikan atau tidak bekerja, dalam artian focus untuk coding.

Selain itu, kecepatan kita juga tergantung dalam seberapa cepat kita belajar dan menyerap konsep konsep baru. Ini adalah suatu hal yang pasti berbeda pada setiap orang. Dan yang dapat kita lakukan adalah sabar dan menikmati prosesnya.

Setiap orang berjalan dalam iramanya masing-masing. Cobalah mengukur bagaimana perkembangan pembelajaran masing-masing diri kita, dan hindarilah kegagalan dengan cara memasang tujuan akhir yang realistis.

Untuk_Coding

#3 Utamakan istiqamah/konsistensi ketimbang kecepatan

Pada saat yang sama, anehnya sebuah ungkapan klise “Slow and steady wins the race” (mereka yang tidak tergesa gesa dan tenang adalah pemenang) nyatanya benar.

Ketika kita baru saja memulai, mungkin kita sangat ingin untuk bergegas untuk melakukan semuanya, dan menghabiskan waktu setiap hari untuk belajar dan praktek coding.

Meskipun demikian, telah disebutkan sebelumnya, itu adalah suatu ekspektasi yang tidak realistis, dan pada akhirnya dapat menyebabkan diri kita burnout dan menyerah.

Menentukan berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk belajar coding dengan sungguh-sungguh tanpa ada pengalih perhatian, baik harian atau mingguan, adalah lebih baik dan realistis. Ketika kita sudah menemukan waktu yang tepat, pelihara kebiasaan kita untuk coding secara istiqomah di waktu itu.

Walaupun waktu yang tersedia hanya sekedar 30 menit sehari, apabila kita konsisten melakukannya selama 7 hari dalam seminggu, waktu belajar kita dapat mencapat 3.5 jam seminggu. Dalam waktu 1 bulan dapat tercapai 14 jam pembelajaran, dan 1 tahun dapat tercapai jumlah waktu pembelajaran sekitar 200 jam!

Pekerjaan kecil, ketika di kombinasikan dengan konsistensi, dapat mengantarkan kedalam pencapaian-pencapaian berarti. Argumen ini sesuai dengan salah satu hadith Rasulullah S.A.W. bahwa sebaik baiknya pekerjaan itu adalah yang konsisten, walau sedikit.

Sama seperti halnya menyikat gigi kita, yang hanya menghabiskan waktu sekitar 4 sampai 5 menit. Namun dengan konsistensi, kegiatan itu dapat membedakan kesehatan gigi kita, apakah rusak atau tidak.

Inilah mengapa konsistensi lebih penting daripada kecepatan.

Untuk_Coding

#4 Bangun semangat dan tekad

Salah satu adagium yang mengatakan kalau tekad adalah otot yang sebenar-benarnya.

Seorang suami istri hidup dan mendapatkan ide ini dari mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari.

Mereka membagi pekerjaan rumah. Di dapur, sang suami akan mencuci semua alat makan kotor dari sehari penuh pemakaian, sedang sang istri meletakkan alat-alat itu di alat pencuci untuk dikeringkan semalaman.

Pagi harinya, hal pertama yang sang istri lakukan adalah menata alat alat makan, sementara tehnya sedang diseduh. Sang istri sangat membenci menata piring, meskipun hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit. Baginya, kegiatan itu sangat membosankan.

Tetapi sang istri tetap memaksa dirinya melakukan hal itu, karena itu adalah tanggung jawab dirinya, pikir sang istri.

Dan hal yang menarik terjadi. Sepanjang waktu, menata piring, gelas dan garpu serta sendok terasa semakin ringan. Semakin ringan seakan-akan sangat mudah dilakukan, hanya butuh diletakkan saja!

Hal yang membosankan pun, walau pun tetap membosankan, dapat menjadi sebuah kebiasaan.

Bagaimana kisah ini berhubungan dengan tekad yang menjadi otot?

Saat memulai work-out untuk membentuk otot yang tak pernah dilatih, jelas jelas kita akan merasakan sulit untuk bahkan memulai work-out.

Namun seiring waktu, work-out tersebut akan semakin membentuk otot otot kita, dan kita akan merasa semakin kuat. Pekerjaan nya akan semakin mudah dilakukan. (Hal ini mengapa atlit angkat beban terus menaikkan beban yang diangkat, menantang otot mereka).

Saat pertama sang istri menata piring dan sendok, tekad nya untuk melakukannya sangatlah rendah. Sampai pada satu waktu, sang istri merasa lebih baik untuk membiarkannya, daripada menatanya.

Namun, seiring waktu, disamping sang istri memaksa dirinya untuk melakukannya, sang istri juga melatih “otot tekad” nya untuk menata piring dan sendok, dan menciptakan kebiasaan baru dalam rutinitas hariannya.

Setelah beberapa saat, kebiasaan tersebut menjadi tertanam dalam otak, sampai terasa lebih mudah untuk terus melakukan dan menyelesaikannya, dibandingkan untuk menundanya!

Maka dari itu, untuk sukses menjadi seorang coder atau programmer, kita harus menumbuhkan atau mengembangkan “otot tekad” kita untuk menghabiskan waktu mempelajari kode.

Meskipun untuk coding merupakan kegiatan yang mungkin menjadi sangat menyenangkan, kadangkala akan terasa sangat menyebalkan atau membosankan, ketimbang melakukan hal-hal menyenangkan lain dalam kehidupan.

Namun, ketahuilah, coding akan semakin mudah dilakukan seiring waktu, seiring dengan disiplin yang kita lakukan untuk melakukannya.

Jika kita memiliki tujuan akhir/goal yang realistis dan konkrit (jelas), arahkan diri kita juga untuk konsisten dalam menghabiskan waktu dalam belajar dan pahamilah, bahwa tekad kita untuk coding akan semakin kuat seiring waktu, dan kemungkinan untuk menyerah ditengah jalan akan semakin kecil.

Akan dilanjutkan di bagian kedua dari tulisan ini. [Hisyam Athaya, S.Kom]

Leave a Reply

Close Menu