Mantingan – Universitas Darussalam Gontor sebagai universitas pesantren memisahkan kampus untuk mahasiswa dan mahasiswi pada lokasi yang berbeda. Orientasi program studi teknik informaika menjadi sarana bagi program studi untuk mengenalkan kurikulum, kultur mahasiswa pesantren, kegiatan kemahasiswaan dan perkenalan bagi seluruh civitas akademika prodi Teknik Informatika.

Kaprodi memperkenalkan dosen di Prodi Teknik Informatika

Bagi Mahasiswi baru, perbedaan sistem perkuliahan dengan sekolah menengah menjadi fokus bidang kurikulum dalam menyampaikan materinya. Aziz Musthafa (Sekretaris Program Studi) menyampaikan sistem SKS dan batas waktu maksimal perkuliahan serta berbagai macam mata kuliah unggulan yang ada pada prodi Teknik Informatika.

Penjelasan kurikulum prodi Teknik Informatika

Kultur mahasiswi pesantren disampaikan oleh Faisal Reza Pradhana, selaku kepala Laboratorium Teknik Informatika. Fokus yang disampaikan adalah berbagai perbedaan dan kesamaan antara Mahasiswi Santri dengan mahasiswi pada umumnya. Sebagai mahasiswi santri, pada mahasiswi baru dituntut untuk tetap berada pada koridor-koridor yang sudah ditetapkan oleh pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Dengan berbagai kultur yang berlaku di dalam pondok diharapkan mampu mencetak putra putri ahli dalam teknologi informasi dan memiliki worldview islam yang baik.

Pada Bidang Kemahasiswaan, diperkenalkan organisasi kemahasiswaan HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika). Selain HIMATIF, diperkenalkan juga berbagai study club yang ada di bawah naungan prodi Teknik Informatika UNIDA Gontor. Mulai dari kelompok studi robotika (Techronity) sampai dengan kelompok studi Mobile (Amoled). Antusiasme mahasiswi dalam mendengarkan dan mulai terlibat dalam perencanaan kegiatan kemahasiswaan menjadi tolak ukur ketertarikan mahasiswi untuk  belajar dan berkarya di prodi Teknik Informatika.

Acara Orientasi dan Perkenalan Program Studi Teknik Informatika diakhiri dengan foto bersama seluruh dosen dan mahasiswi baru.

Foto Bersama, Dosen dan Mahasiswi Baru 2018