Analisa berdasarkan Pandangan Islam terhadap Teknologi

Oleh: Hisyam Athaya/Semester 2/Teknik Informatika/UNIDA GONTOR

Dalam Transcendence, film rilisan tahun 2014 lalu, terdapat kisah menarik mengenai kecerdasan buatan manusia. Begitupula dalam film itu dibuat sebuah rekayasa tanggapan manusia terhadap perkembangan sains yang bergitu pesat, diwakili oleh tanggapan manusia kepada kecerdasan buatan, yang dalam film, hampir menguasai segalanya. Dalam film bedurasi sekitar 2 jam itu, ditampilkan 2 pandangan manusia terhadap perkembangan teknologi. Antara mereka yang setuju dan mendukung teknologi, diwakili oleh para ilmuwan, dengan mereka yang tidak setuju, diwakili oleh sekelompok teroris penuntut kebebasan manusia dari teknologi. Dikisahkan, seorang ilmuwan bernama Will Caster tertarik dengan teori bahwa pikiran manusia adalah semacam sistem komputer, dan berusaha membuktikan teori tersebut melalui cara meng-“upload” kesadarannya sendiri ke sebuah komputer dan menjadikan kesadarannya sebagai kecerdasan buatan. Singkatnya, kesadaran Will berkembang pesat melalui jaringan internet, membuatnya bahkan dapat menciptakan berbagai hal, termasuk replika kehidupan itu sendiri. Pada akhirnya, kesadaran Will dimatikan oleh virus yang diinjeksikan oleh kekasihnya sendiri, yang takut akan kebaikan umat manusia.

Apa yang ditampilkan dalam Transcendence bukanlah mengada – ada. Sekitar tahun 1960 sampai 1980-an Hillary Putnam, dengan muridnya Jerry Fodor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) merumuskan teori yang disebut Computational Theory of Mind, menyatakan bahwa otak dan kesadaran manusia bekerja seperti mesin pemroses informasi, dan menyatakan komputasi adalah berfikir, dengan demikian dapat ditiru dan dimanipulasi. Teori ini kemudian mencetuskan hipotesa singularitas teknologi, dimana otak manusia dapat dikalahkan oleh kecerdasan buatan manusia sendir, setelah manusia dapat menirukan secara akurat kesadaran dan otak manusia dalam bentuk komputer. Teori ini dihidupkan dalam Transcendence, dengan bersamaan membentuk sebuah paradigma bahwa teknologi dapat menundukkan manusia jika dibiarkan bekembang.

Fenoma munculnya film ini, bersamaan dengan bermunculannya berbagai film Fiksi ilmiah lainnya, seperti H++ ataupun Cybergeddon, menunjukkan ketakutan manusia terhadap teknologi. Maka, terbesitlah sebuah pertanyaan, benarkah teknologi dapat memperbudak manusia?

Dalam Pengantar Filsafatnya, Dr. Muhammad Muslih menyatakan pada masa kini, manusia lebih bersaing dalam hal pemikiran. Siapa yang mempunyai olah pikir yang berkualitas, dapat menguasai orang lain dengan mudah. Teknologi merupakan salah satu hasilnya, dari keinginan manusia mempermudah pekerjaan. Berbagai kemudahan ini kemudian menjadi sebuah kecanduan terhadap teknologi, memerosotkan kreativitas mereka. Kecanduan ini dapat disamakan dengan pernyataan bahwa teknologi sudah menguasai manusia. Dalam realita, kita menemukan ragam macam kebenaran dari argumentasi ini. Mahasiswa UNIDA, misalnya, menghabiskan puluhan jam mereka didepan Smartphone mereka memainkan Clash Of Clans. Mereka lebih tertarik mengejar kemajuan dalam game-nya daripada mengejar pelajaran yang diberikan dosen. Dalam film Charlie and The Chocolate Factory, teknologi pemasang tutup pasta gigi memaksa ayah Charlie untuk berhenti bekerja dari perusahaan pasta gigi. Apa dengan demikian teknologi mengancam manusia?

Dalam pandangan Islam, kemajuan teknologi saat ini bukanlah sesuatu yang disebutkan oleh Rasulullah Muhammad maupun Allah SWT. Dalam artian lain, kemajuan teknologi adalah Bid’ah atau sesuatu yang diada – adakan oleh manusia. Namun Islam tetap memiliki hukum yang berkaitan dengannya Dr. Shalih Fauzan dalam Kitab Tauhid di Bab Al-Walaa’ wa Al-Baraa’ menyatakan bahwa teknologi bukan termasuk dalam ranah ibadah maupun ‘Aqidah (kepercayaan) dan memasukannya sebagai bid’ah dalam adat istiadat manusia, dehingga dianggap mubah/diperbolehkan. Teknologi pada dasarnya mempermudah manusia, (Melalui kemudahan berkomunikasi, kemudahan menghasilkan kebutuhan sehari – hari, dll) dan Allah pula selalu mengkehendaki kemudahan untuk hambanya (Al-Baqarah: 185, An-Nisa: 28, Al-Haj: 78), maka dapat digunakan kaidah Mashalih Mursalah dalam konklusi diperbolehkannya teknologi dalam kehidupan manusia. Singkatnya, kemajuan teknologi dalam hal mempermudah manusia dalam menjalankan kehidupannya diperbolehkan.

Lantas apakah kemudahan ini dapat kemudian menjadikan manusia bermudah-mudah atau berleha-leha? Tidak. Pepatah Arab mengatakan, “Sebaik-baiknya perkara adalah di pertengahan” tidak banyak dan tidak pula sedikit. Islam pun memandang segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan dunia sebagai moderat. Islam tidak melarang kemudahan dalam bekerja, tapi Islam pula tidak memudah – mudahkan sebuah kewajiban. Demikian pula dalam menggunakan teknologi, umat Islam seharusnya hanya menggunakannya sebagai alat pembantu dan penunjang semata, dan tidak bergantung secara sepenuhnya kepada teknologi semata, manusia menjadi tidak kreatif, dan pemalas. Otak mereka yang dirancang sedemikian sempurna, mampu memproses jutaan informasi dari kelima indera, menjadi tumpul, karena tidak mau berfikir. Kita hanya mau bermain Clash Of Clans, tanpa berfikir, bagaiamana pembuatan program game itu, bahasa apa yang menyusunnya, atau apa maksud tersembunyinya? Kita hanya ingin menikmati saja, enggan berkreasi lebih baik. Kemudian hanya menjadi sekedar eksploitator yang hanya mau disisipi.

Lebih ironis lagi, manusia kini disuapi oleh para pengembang teknologi, memanjakan mereka, menumpulkan otak mereka dan memberikan mereka kenikmatan sesaat yang beracun. Mereka kemudian mendoktrin secara tersembunyi, menggiring manusia kebawah kekuasaan mereka. Maka, jika kelak teori Hillary Putnam dan Jerry Fodor, diikuti oleh hipotesa Singularitas Teknologi-nya John van Neuman dan Stainslaw Ulam, tidak terjadi; Maka manusia harus mewaspadai mereka yang berada dibalik kendali serta pengembangan teknologi.