Sikap Seorang Muslim Terhadap Fenomena Wabah Penyakit

Sikap Seorang Muslim Terhadap Fenomena Wabah Penyakit

UNIDA Gontor – Senin 23 Maret 2020, pelaksanaan sholat dzuhur berjamaah di masjid Jami’ UNIDA Gontor berjalan dengan khidmat. Kali ini, yang bertindak sebagai imam ialah Al-Ustadz Taufiqurrahman, S.Pd., M.T salah satu dosen di Prodi Tekhnik Informatika UNIDA Gontor. Beliau sekaligus yang mengisi kultum pada kesempatan tersebut.

Wabah virus corona sampai di Indonesia

Sebagai seorang muslim, selayaknya kita menyikapi wabah virus Corona dengan selalu berpegang teguh kepada syari’at agama. Jangan sampai hanya karena wabah virus ini lantas menimbulkan kekhawatiran yang begitu mendalam melebihi apa yang sudah diajarkan oleh agama dalam menghadapi segala persoalan kehidupan.

Wabah virus Corona sendiri saat ini sudah memenuhi hampir di seluruh media, baik itu cetak maupun online. Jika menilik lebih dalam, virus ini sebenarnya sudah dikenali tahun 1960 namun hanya sebagian kecil. Seiring berkembangnya waktu dari tahun 60 an hingga 2000 an, virus ini terus berkembang menjadi satu kesatuan yang komplit. Pada tahun  2002, penyebutan virus ini sedikit berbeda, penyebutannya menjadi (sars) kemudian berubah (mers) yang bermula dari hewan, hingga  tahun 2019 muncul kembali dengan nama (covid). Wabah ini terus merebak keseluruh penjuru yang bermula dari Wuhan China.

Senada dengan kondisi diatas, jika melihat sejarahnya, sejatinya virus ini bukanlah virus baru karena sudah ditemukan sejak lama. Epidemi yang membahayakan ini bagi seorang muslim menyikapinya haruslah mengikuti prinsip yang sudah dijelaskan di dalam beberapa hadits, yang menjadi panutan dan pusat kendali atas kehidupan seorang muslim. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya:

Pertama: Segala sesuatu ialah milik Allah SWT. Segala apa yang ada hanyalah milik-Nya. Virus itu juga termasuk mahluk. Kepercayaan yang harus kita waspadai ialah bukan takut kepada virusnya namun kepada siapa yang mempunyai-Nya. Tindakan perventif tentu boleh namun dasarnya hanyalah takut kepada sang pemilik apa yang ada di bumi dan langit.

Kedua: Allah SWT maha penyayang, apapun yang ditimpakan kepada kita selaku mahluknya baik itu kesenangan, kesengsaraan, wabah penyakit, dan lain sebagainya semuanya adalah atas kehendak-Nya. Oleh karenanya, kita seyogyanya harus lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Mintalah pertolongan dan penjagaa-Nya.

Dalam hidup tentu saja berikhtiar dengan berusaha menghindari segala bentuk kegiatan atau aktifitas yang dapat menimbulkan indikasi terinfeksi virus ini harus kita lakukan, dan sisanya serahkan kepada Allah SWT. Karena bagaimanapun virus ini juga termasuk mahluk. Pencipta atas segala ciptaan baik yang dapat dilihat oleh mata telanjang atau tidak. Esensinya kesemua itu adalah mahluk ciptaan-Nya.

Maka prinsip ini haruslah di pegang teguh oleh kita selaku umat muslim. Kemudian beliau mengakhiri dengan penjelasan bahwa untuk menghadapi wabah virus ini haruslah lebih teliti, berita apapun yang mengenai wabah ini harus diseleksi dengan cermat, tabayyun terlebih dahulu jangan langsung panik. Begitulah seorang muslim sejati menyikapi apa yang dikehendaki oleh-Nya.

[Pen: M. Syahrul Anwar/Ed.:Ahmad Kali Akbar]

untuk berbagai artikel menarik lainnya silahkan kunjungi: pba.unida.gontor.ac.id

Leave a Reply

Close Menu